0

ARISTOTELES

26 Jun 2010.
ARISTOTELES 384 SM-322 SM
Nyaris tak terbantahkan, Aristoteles seorang filosof dan ilmuwan terbesar dalam dunia masa lampau. Dia memelopori penyelidikan ihwal logika, memperkaya hampir tiap cabang falsafah dan memberi sumbangsih tak terperikan besarnya terhadap ilmu pengetahuan.

Banyak ide-ide Aristoteles kini sudah ketinggalan jaman. Tetapi yang paling penting dari apa yang pernah dilakukan Aristoteles adalah pendekatan rasional yang senantiasa melandasi karyanya. Tercermin dalam tulisantulisan Aristoteles sikapnya bahwa tiap segi kehidupan manusia atau masyarakat selalu terbuka untuk obyek pemikiran dan analisa. Pendapat Aristoteles, alam semesta tidaklah dikendalikan oleh serba kebetulan, oleh magi, oleh keinginan tak terjajaki kehendak dewa yang terduga, melainkan tingkah laku alam semesta itu tunduk pada hukum-hukum rasional. Kepercayaan ini menurut Aristoteles diperlukan bagi manusia untuk mempertanyakan tiap aspek dunia alamiah secara sistematis dan kita mesti memanfaatkan baik pengamatan empiris dan alasan-alasan yang logis sebelum mengambil keputusan. Rangkaian sikap-sikap ini --yang bertolak belakang dengan tradisi, takhyul dan mistik-- telah mempengaruhi secara mendalam peradaban Eropa.

Aristoteles dilahirkan di kota Stagira, Macedonia, 384 SM. Ayahnya seorang ahli fisika kenamaan. Pada umur tujuh belas tahun Aristoteles pergi ke Athena belajar di Akademi Plato. Dia menetap di sana selama dua puluh tahun hingga tak lama Plato meninggal dunia. Dari ayahnya, Aristoteles mungkin memperoleh dorongan minat di bidang biologi dan "pengetahuan praktis". Di bawah asuhan Plato dia menanamkan minat dalam hal spekulasi filosofis.

Pada tahun 342 SM Aristoteles pulang kembali ke Macedonia, menjadi guru seorang anak raja umur tiga belas tahun yang kemudian dalam sejarah terkenal dengan Alexander Yang Agung. Aristoteles mendidik si Alexander muda dalam beberapa tahun. Di tahun 335 SM, sesudah Alexander naik tahta kerajaan, Aristoteles kembali ke Athena dan di situ dibukanya sekolahnya sendiri, Lyceum. Dia berada di Athena dua belas tahun, satu masa yang berbarengan dengan karier penaklukan militer Alexander. Alexander tidak minta nasehat kepada bekas gurunya, tetapi dia berbaik hati menyediakan dana buat Aristoteles untuk melakukan penyelidikan-penyelidikan. Mungkin ini merupakan contoh pertama dalam sejarah seorang ilmuwan menerima jumlah dana besar dari pemerintah untuk maksud-maksud penyelidikan dan sekaligus merupakan yang terakhir dalam abad-abad berikutnya.

Walau begitu, pertaliannya dengan Alexander mengandung pelbagai bahaya. Aristoteles menolak secara prinsipil cara kediktatoran Alexander dan tatkala si penakluk Alexander menghukum mati sepupu Aristoteles dengan tuduhan menghianat, Alexander punya pikiran pula membunuh Aristoteles. Di satu pihak Aristoteles kelewat demokratis di mata Alexander, dia juga punya hubungan erat dengan Alexander dan dipercaya oleh orang-orang Athena. Tatkala Alexander mati tahun 323 SM golongan anti-Macedonia memegang tampuk kekuasaan di Athena dan Aristoteles pun didakwa kurang ajar kepada dewa. Aristoteles, teringat nasib yang menimpa Socrates 76 tahun sebelumnya, lari meninggalkan kota sambil berkata dia tidak akan diberi kesempatan kedua kali kepada orang-orang Athena berbuat dosa terhadap para filosof. Aristoteles meninggal di pembuangan beberapa bulan kemudian di tahun 322 SM pada umur enam puluh dua tahun.

Aristoteles dengan muridnya, Alexander

Hasil murni karya Aristoteles jumlahnya mencengangkan. Empat puluh tujuh karyanya masih tetap bertahan. Daftar kuno mencatat tidak kurang dari seratus tujuh puluh buku hasil ciptaannya. Bahkan bukan sekedar banyaknya jumlah judul buku saja yang mengagumkan, melainkan luas daya jangkauan peradaban yang menjadi bahan renungannya juga tak kurang-kurang hebatnya. Kerja ilmiahnya betul-betul merupakan ensiklopedi ilmu untuk jamannya. Aristoteles menulis tentang astronomi, zoologi, embryologi, geografi, geologi, fisika, anatomi, physiologi, dan hampir tiap karyanya dikenal di masa Yunani purba. Hasil karya ilmiahnya, merupakan, sebagiannya, kumpulan ilmu pengetahuan yang diperolehnya dari para asisten yang spesial digaji untuk menghimpun data-data untuknya, sedangkan sebagian lagi merupakan hasil dari serentetan pengamatannya sendiri.

Untuk menjadi seorang ahli paling jempolan dalam tiap cabang ilmu tentu kemustahilan yang ajaib dan tak ada duplikat seseorang di masa sesudahnya. Tetapi apa yang sudah dicapai oleh Aristoteles malah lebih dari itu. Dia filosof orisinal, dia penyumbang utama dalam tiap bidang penting falsafah spekulatif, dia menulis tentang etika dan metafisika, psikologi, ekonomi, teologi, politik, retorika, keindahan, pendidikan, puisi, adat-istiadat orang terbelakang dan konstitusi Athena. Salah satu proyek penyelidikannya adalah koleksi pelbagai negeri yang digunakannya untuk studi bandingan.

Mungkin sekali, yang paling penting dari sekian banyak hasil karyanya adalah penyelidikannya tentang teori logika, dan Aristoteles dipandang selaku pendiri cabang filosofi yang penting ini. Hal ini sebetulnya berkat sifat logis dari cara berfikir Aristoteles yang memungkinkannya mampu mempersembahkan begitu banyak bidang ilmu. Dia punya bakat mengatur cara berfikir, merumuskan kaidah dan jenis-jenisnya yang kemudian jadi dasar berpikir di banyak bidang ilmu pengetahuan. Aristoteles tak pernah kejeblos ke dalam rawa-rawa mistik ataupun ekstrim. Aristoteles senantiasa bersiteguh mengutarakan pendapat-pendapat praktis. Sudah barang tentu, manusia namanya, dia juga berbuat kesalahan. Tetapi, sungguh menakjubkan sekali betapa sedikitnya kesalahan yang dia bikin dalam ensiklopedi yang begitu luas.

Pengaruh Aristoteles terhadap cara berpikir Barat di belakang hari sungguh mendalam. Di jaman dulu dan jaman pertengahan, hasil karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Latin, Arab, Itali, Perancis, Ibrani, Jerman dan Inggris. Penulis-penulis Yunani yang muncul kemudian, begitu pula filosof-filosof Byzantium mempelajari karyanya dan menaruh kekaguman yang sangat. Perlu juga dicatat, buah pikirannya banyak membawa pengaruh pada filosof Islam dan berabad-abad lamanya tulisan-tulisannya mendominir cara berpikir Barat. Ibnu Rusyd (Averroes), mungkin filosof Arab yang paling terkemuka, mencoba merumuskan suatu perpaduan antara teologi Islam dengan rasionalismenya Aristoteles. Maimomides, pemikir paling terkemuka Yahudi abad tengah berhasil mencapai sintesa dengan Yudaisme. Tetapi, hasil kerja paling gemilang dari perbuatan macam itu adalah Summa Theologia-nya cendikiawan Nasrani St. Thomas Aquinas. Di luar daftar ini masih sangat banyak kaum cerdik pandai abad tengah yang terpengaruh demikian dalamnya oleh pikiran Aristoteles.

Kekaguman orang kepada Aristoteles menjadi begitu melonjak di akhir abad tengah tatkala keadaan sudah mengarah pada penyembahan berhala. Dalam keadaan itu tulisan-tulisan Aristoteles lebih merupakan semacam bungkus intelek yang jitu tempat mempertanyakan problem lebih lanjut daripada semacam lampu penerang jalan. Aristoteles yang gemar meneliti dan memikirkan ihwal dirinya tak salah lagi kurang sepakat dengan sanjungan membabi buta dari generasi berikutnya terhadap tulisan-tulisannya.

Beberapa ide Aristoteles kelihatan reaksioner diukur dengan kacamata sekarang. Misalnya, dia mendukung perbudakan karena dianggapnya sejalan dengan garis hukum alam. Dan dia percaya kerendahan martabat wanita ketimbang laki-laki. Kedua ide ini-tentu saja --mencerminkan pandangan yang berlaku pada jaman itu. Tetapi, tak kurang pula banyaknya buah pikiran Aristoteles yang mencengangkan modernnya, misalnya kalimatnya, "Kemiskinan adalah bapaknya revolusi dan kejahatan," dan kalimat "Barangsiapa yang sudah merenungi dalam-dalam seni memerintah manusia pasti yakin bahwa nasib sesuatu emperium tergantung pada pendidikan anak-anak mudanya." (Tentu saja, waktu itu belum ada sekolah seperti yang kita kenal sekarang).

Di abad-abad belakangan, pengaruh dan reputasi Aristoteles telah merosot bukan alang kepalang. Namun, saya pikir pengaruhnya sudah begitu menyerap dan berlangsung begitu lama sehingga saya menyesal tidak bisa menempatkannya lebih tinggi dari tingkat urutan seperti sekarang ini. Tingkat urutannya sekarang ini terutama akibat amat pentingnya ketiga belas orang yang mendahuluinya dalam urutan.
Leia Mais...
2

MAKALAH PEMBAWAAN DAN LINGKUNGAN

Pembawaan dan Lingkungan

1. Pembawaan
Pembawaan adalah suatu konsep yang dipercayai/dikemukakan oleh orang-orang yang mempercayai adanya potensi dasar manusia yang akan berkembang sendiri atau berkembang dengan berinteraksi dengan lingkungan. Ada pula istilah lain yang biasa diidentikkan dengan pembawaan, yakni istilah keturunan dan bakat. Sebenarnya ketiga istilah tersebut tidaklah persis sama pengertiannya. Pembawaan ialah seluruh kemungkinan atau kesanggupan (potensi) yang terdapat pada suatu individu dan yang selama masa perkembangan benar-benar dapat diwujudkan (direalisasikan).
Pembawaan tersebut berupa sifat, ciri, dan kesanggupan yang biasa bersifat fisik atau bisa juga yang bersifat psikis (kejiwaan). Warna rambut, bentuk mata, dan kemampuan berjalan adalah contoh sifat, ciri, dan kesanggupan yang bersifat fisik. Sedangkan sifat malas, lekas marah, dan kemampuan memahami sesuatu dengan cepat adalah sifat-sifat psikis yang mungkin berasal dari pembawaan. Pembawaan yang bermacam-macam itu tidak berdiri sendiri-sendiri, yang satu terlepas dari yang lain. Seluruh pembawaan yang terdapat dalam diri seseorang merupakan keseluruhan yang erat hubungannya satu sama lain; yang satu menentukan, mempengaruhi, menguatkan atau melemahkan yang lain. Manusia tidak dilahirkan dengan membawa sifat-sifat pembawaan yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri, tetapi merupakan struktur pembawaan. Struktur pembawaan itu menentukan apakah yang mungkin terjadi pada seseorang.
2. Lingkungan (Environment)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata lingkungan berarti “semua yang mempengaruhi pertumbuhan manusia dan hewan``
Dalam konteks pendidikan, objek pengaruh tentu saja dibatasi hanya pada pertumbuhan manusia, tidak mencakup pertumbuhan hewan. Oleh karena itu, M. Ngalim Purwanto menyatakan bahwa yang dimaksud dengan lingkungan di dalam pendidikan ialah setiap pengaruh yang terpancar dari orang-orang lain, bintang, alam, kebudayaan, agama, adat-istiadat, iklim, dsb, terhadap diri manusia yang sedang berkembang
Menurut penulis, mungkin yang dimaksud Ngalim dalam definisi di atas adalah pengaruh lingkungan (bukan lingkungan). Dengan asumsi ini maka lingkungan adalah segala sesuatu yang mempengaruhi perkembangan diri manusia, yakni orang-orang lain (individu atau masyarakat), binatang, alam, kebudayaan, agama, adat- istiadat, iklim, dsb.
Sartain, seorang ahli psikolog Amerika, membagi lingkungan menjadi 3 bagian sebagai berikut:
a. Lingkungan alam atau luar (eksternal or physical environment), ialah segala sesuatu yang ada dalam dunia ini, selain manusia.
b. Lingkungan dalam (internal environment), ialah segala sesuatu yang telah masuk ke dalam diri kita, yang dapat mempengaruhi pertumbuhan fisik kita, misalnya makanan yang telah diserap pembuluh-pembuluh darah dalam tubuh.
c. Lingkungan sosial, ialah semua orang atau manusia lain yang mempengaruhi kita.
Mengenai jenis lingkungan yang ketiga, Ralph Linton (1962: 10), seorang anthropolog Amerika, mengistilahkannya sebagai lingkungan manusiawi. Menurutnya, lingkungan manusiawi itu mencakup masyarakatdan cara hidup yang khas dari masyarakat, yaitu kebudayaan. Baik Sartain maupun Linton sepakat bahwa lingkungan sosial atau lingkungan manusiawi adalah yang paling besar berpengaruh dalam perkembangan pribadi seseorang.
Teori-teori mengenai Pembawaan dan Lingkungan
1. Empirisme
Empirisme adalah suatu aliran atau paham yang menganggap bahwa segala kecakapan dan pengetahuan manusia timbul dari pengalaman (empiri) yang masuk melalui indera, Menurut penganut aliran ini, pengalaman yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-hari terdiri dari stimulan-stimulan dari alam bebas dan yang diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk program pendidikan. Jadi, yang menentukan perkembangan anak (manusia) adalah semata-mata faktor-faktor eksternal (lingkungan).
John Locke (1632-1714 M), salah seorang tokoh aliran emprisme, terkenal dengan Teori Tabularasanya. Menurut teori ini, anak yang baru dilahirkan dapat diumpamakan sebagai kertas putih bersih yang belum ditulisi (a sheet of white paper avoid of all characters). Artinya bahwa anak sejak lahir tidak mempunyai pembawaan apa-apa (netral), tidak punya kecenderungan untuk menjadi baik atau menjadi buruk. Dengan demikian anak dapat dibentuk sekehendak pendidiknya. Dengan kata lain, hanya pendidikan (atau lingkungan) yang berperan atas pembentukan anak.
Pengaruh aliran ini tampak juga pada salah satu mazhab psikologi yang disebut sebagai behaviorisme (aliran tingkah laku). Para tokoh aliran ini, seperti Thorndike, I. Pavlov, J.B. Watson, dan F. Skinner berpendapat bahwa manusia adalah makhluk yang pasif dan dapat dimanipulasi, umpama melalui modifikasi tingkah laku. Mereka memandang manusia sebagaimakhluk reaktif (tidak aktif). Manusia hanyalah objek, benda hidup yang hanya dapat memberi respons kepada perangsang yang berasal dari lingkungannya. Jadi dalam hubungannya dengan lingkungan, seseorang hanya dapat bersifat autoplastis, tidak dapat bersifat alloplastis.
Dengan demikian empirisme berpandangan bahwa pendidik memegang peranan yang sangat menentukan dalam proses pendidikan. Pendidiklah yang menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak didik dan akan diterima oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman. Kemudian dari pengalaman-pengalaman akan dapat terbentuk susunan kebiasaan yang membentuk pribadi seseorang.
2. Nativisme
Sebagai reaksi terhadap empirisme, muncul nativisme. Istilah nativisme berasal dari kata nativus (latin) yang berarti karena kelahiran.
Aliran nativisme berpendapat bahwa tiap-tiap anak dilahirkan dengan membawa sejumlah potensi (pembawaan) yang akan berkembang sendiri menurut arahnya masing-masing. Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya, sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Tokoh nativisme, Schopenhauer (1788-1860) berpendapat bahwa bayi lahir beserta pembawaannya, baik atau buruk. Seorang anak yang mempunyai pembawaan baik, maka dia akan menjadi baik. Sebaliknya, kalau anak mempunyai pembawaan buruk, maka dia akan tumbuh menjadi anak yang jahat. Pembawaan-pembawaan itu tidak akan dapat diubah oleh kekuatan luar (lingkungan
Dengan demikian dapat dipahami bahwa aliran ini berpandangan bahwa keberhasilan pendidikan ditentukan oleh hal-hal yang bersifat internalpada anak didik sendiri. Dengan kata lain, hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Pendidikan yang tidak sesuai dengan pembawaan atau bakat anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak tersebut. Oleh karena itu, pendidikan sebenarnya tidak diperlukan, dan inilah yang disebut sebagai pesimisme pedagogis.
3. Naturalisme
Pandangan yang mirip dengan pandangan nativisme dikemukakan oleh para penganut paham naturalisme. Sesuai dengan akar kata naturalisme, yakni nature ‘alam’ atau ‘apa yang dibawa sejak lahir’, aliran ini berpandangan bahwa seorang anak telah mempunyai pembawaan sejak lahir
Meskipun kedua aliran sepakat dalam hal adanya pembawaan pada manusia, namun J.J. Rousseau (1712—1778) (tokoh utama naturalisme), berbeda pendapat dengan Schopenhauer (nativisme) tentang pembawaan tersebut. Schopenhauer berpendapat bahwa bayi lahir dengan dua kemungkinan pembawaan, yakni baik atau buruk, sedangkan Rosseau menyatakan bahwa semua anak yang baru dilahirkan hanya mempunyai pembawaan baik.
Kalau dalam hal keberadaan pembawaan manusia pandangan antara naturalisme dengan nativisme ada kesamaan, maka dalam hal besarnya peranan lingkungan dalam mempengaruhi perkembangan anak, justru pandangan naturalisme memiliki unsur kesamaan dengan empirisme. Hal ini dapat dilihat dalam pernyataan J.J. Rousseau bahwa “semua anak adalah baik pada waktu baru datang dari Sang Pencipta, tetapi semua menjadi rusak di tangan manusia”.
Jadi, walaupun manusia lahir dengan potensi pembawaan baik, tetapi bagaimana hasil perkembangannya kemudian sangat ditentukan oleh pendidikan yang diterimanya atau yang mempengaruhinya. Jika pengaruh itubaik, akan menjadi baiklah ia, tetapi bilamana pengaruh itu jelek akan jelek pula hasilnya.
Dengan berasumsi pada teori di atas, maka dalam hal pendidikan Rosseau berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan orang dewasa malahan dapat merusak pembawaan anak yang baik itu. Karena pendapat inilah maka naturalisme juga disebut sebagai negativisme. Mereka berpandangan bahwa pendidik wajib membiarkan pertumbuhan anak pada alam, inilah yang disebut sebagai “pendidikan alam”. Dengan pendidikan alam, anak dibiarkan berkembang menurut alam (nature)-nya, manusia atau masyarakat jangan mencampurinya agar pembawaan yang baik itu tidak menjadi rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan pendidikan yang dilakukan oleh manusia.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa naturalisme, sebagaimana nativisme, tidak menganggap perlu diadakannya pendidikan (oleh manusia) bagi manusia. Bahkan dengan anggapan bahwa pendidikan dapat merusak pembawaan baik anak, naturalisme justru dapat dianggap menentang pelaksanaan pendidikan yang dilakukan oleh manusia.
4. Hukum Konvergensi
Nyatalah kedua pendirian yang baru ditemukan itu kedua-duanya ekstrim, tdak dapat dipertahankan. Karena itu adalah sudah sewajarnya kalau diusahakan adanya pendirian yang dapat mengatasi keberatsebelahan itu. Paham dianggap dapat mengatasi keberatsebelahan itu ialah paham Konvergensi, yang biasanya dianggap dirumusan secara baik untuk pertama kalinya oleh W. Stern.
Paham Konvergensi in berpendapat, bahwa di dalam perembangan individu itu baik dasar atau pembawaan maupun lingkungan memankan peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu; Akan tetapi bakat yang sudah tersedia itu perlu menemukan lingkungan yang sesuai supaya dapat berkembang. Misalnya : Tiap anak manusia yang normal mempunyai bakat untuk berdiri tegak di atas kedua kaki; Akan tetapi bakat ini tidak akan menjadi actual(menjadi kenyataan) jika sekiranya anak manusia itu tidak hidup dalam lingkungan masyarakat manusia. Anak yang semenjak kecilnya diasuh oleh serigala tak akan dapat berdiri tegak di atas dua kakinya ; munkin dia kan berjalan di atas tangan dan kakinya( jadi seperti serigala). Di samping bakat sebagai kemungkinan yang harus di jawab dengan lingkungan yang sesuai, perlu pula dipertimbangkan soal kematangan( readiness). Bakat yang sudah ada sebagai kemungkinan kalau mendapat pengaruh lingkungan yang serasi, belum tentu dapat berkembang, kecuali kalau bakat itu memang sudah matang. Misalnya saja anak yang normal umur enam bulan, walaupun hidup di tengah-tengah manusia-manusia lain, tak akan dapat berjalan karena belum matang. Dewasa ini sebagian besar dari para ahli mengikuti konsepsi ini, dengan variasi yang bermacam-macam, ada yang pratiknya menganggap bahwa yang lebih dominan itu dasar, yaitu ahli-ahli psikologi konstitusional; adapula yang menganggap yang lebih dominant itu lingkungan. Kelompok yang kedu pada dewasa ini lebih banyak pengikut-pengikutnya terutama di Inggris dan Amerika Serikat. Salah satu tokoh yang cukup populer yang mengikuti pendirian yang semacam dikemukakan paling akhir itu ialah Alfred Adler. Adler dengan pengikut-pengikutnya misalnya telah mengadakan studi yang mendalam mengenai sifat-sifat has anak dalam hubungan dengan kedudukanya dalam struktur keluarga: seperti misalnya anak sulung, anak bungsu, anak tunggal, anak yang semua saudaranya berlainan jenis dengan dia sendiri, dan sebagainya; mereka itu menunjukkan sifat-sifat yang khas bukan karena keturunan tetapi justru karena kedudukan mereka dalam struktur keluarga yang khas, yang menyebabkan adanya sikap yang khas dari orang-orang tua mereka serta anggota-anggota keluarga yang lain yang lebih dewasa. Juga mereka beranggapan bahwa kemiripan –kemiripan yang ada antara anak-anak dengan orang tua mereka tidaklah berakar pada dasar atau keturunan. Melainkan berakar pada lingkungan, yaitu peniruan; dalam perkembangannya anak meniru orang-orang yang lebih dewasa, dank arena pergaulannya terutama dengan orang tuanya, maka yang dijadikan obyek atau model peniruan adalah terutama orang tuanya.
Suatu pengupasan hal yang sama itu, tetapi dari sudut yang agak berbeda apa yang dikemukakan oleh Langeveld. Langeveld secara fenomenologis mencoba menemukan hal-hal apakah yang memungkinkan perkembangan anak itu menjadi orang dewasa, dan dia menemukan hal-hal yang berikut:
a. Justru karena anak itu adalah makhluk hidup (makhluk biologis) maka dia berkembang.
b. Bahwa anak itu pada waktu masih sangat muda adalah sangat tidak berdaya, dan adalah suatu keniscayaan bahwa dia perlu berkembang menjadi lebih berdaya.
c. Bahwa kecuali kebutuhan-kebutuhan biologis anak memerlukan adanya perasaan aman, karena itu perlu adanya pertolongan atau perlindungan dari orang yang mendidik.
d. Bahwa di dalam perkembangannya anak tidak pasif menerima pengaruh dari luar semata-mata, melainkan ia juga aktif mencari dan menemukan.

Jika hal-hal yang dikemukakan di atas itu dapat disebut sebagai azas, maka ada empat asas dalam perkembangan itu, yaitu:
a. asas biologis,
b. asas ketidak-berdayaan,
c. asas keamanan, dan
d. asas eksplorasi.

Kenyataan yang pertama adalah bahwa anak itu adalah makhluk hidup, maka dia berkembang. Jika sekiranya dia itu bukanlah makhluk hidup, maka perkembangan itu tidak mungkin akan terjadi. Kecuali itu supaya perkembangan anak berlangsung dalam rangka normal, maka keadaan biologisnya juga harus normal. Anak yang keadaan biologisnya cacat akan menunjukan kelainan-kelainan dalam perkembangan mereka. Kecuali diperlukan adanya keadaan biologis yang normal, maka kebutuhan-kebutuhan biologis juga harus dipenuhi secara normal. Terutama pada anak-anak yang masih muda dipenuhinya secara normal kebutuhan-kebutuhan biologis itu merupakan hal yang mutlak; anak yang kekurangan makanan misalnya akan penyakitan, dan hal ini akan mengakibatkan lebih lamabat perkembangannya.
Kenyataan yang kedua ialah bahwa pada waktu dilahirkan anak manusia itu adalah jauh sangat tidak berdaya jika misalnya kita bandingkan dengan anak hewan. Hal yang demikian itu tidaklah merupakan kekurangan manusia terhadap hewan, tetapi justru sebaliknya; justru karena kaadaannyayang demikian itulah, justru karena ketidak berdayaannya itulah maka anak manusia mempunyai kemungkinan perkembngan yang sangat luas. Kalau hewan hidup dengan menggunakan instink-instinknya karena hal yang demikian itu secara hakikat diperlukan untuk menjamin kebaradaan di dunia ini, maka peranan instink dalam kehidupan manusia tidak sepenting itu. Kalau hewan hidup pada dunia yang tertutup, maka manusia hidup di dunia yang terbuka.
Kenyataan yang ke tiga adalah bahwa karena tidak berdayanya itu manusia yang sangat muda itu sangat membutuhkan pertolongan. Pemenuhan kebutuhan biologis saja belumlah akan mencukupi bagi anak manusia. Anak yang telah terpenuhi kebutuhan-kebutuhan biologisnya masih membutuhkan yang lain, yaitu rasa terlindungi, rasa aman, yang diterimanya dari pendidik. Inti daripada perlindungan ini ialah kasih sayang orang tua. Kurangnya kasih sayang ini dapat mengganggu perkembangan perasaan. Itulah sebabnya anak-anak sukar (problem child) banyak berasal dari keluarga yang retak (broken home), misalnya karena perceraian orang tua, adanya orang tua tiri, diasuh oleh orang pengganti, dan sebagainya. Dalam rumah tangga yang demikian itu rasa aman yang sangat dibutuhkan oleh anak itu tidak ada atau kurang sekali.
Dalam pada itu perlu diingat, bahwa pemberian perlindungan atau rasa kasih sayang itu juga tidak boleh secara berlebih-lebihan, justru demi kepentingan dan kesejahteraan sang anak; sebab perlindungan yang diberikan secara berlebih-lebihan akan berakibat si anak didik selalu menggantungkan diri kepada pendidik dan tidak berani berdiri di atas kedua kaki sendiri.Selanjutnya mengenal asas eksplorasi dapat dikemukakan hal yang berikut. Secara fenominologis perkembangan itu dapat digambarkan sebagai eksplorasi atau penjelajahan anak di dalam dunianya. Eksplorasi ini dilakukan oleh si anak dengan berbagai cara: mula-mula sekali terutama dengan fungsi-fungsi jasmaniah (mulut, tangan, kaki, dan sebagainya). Kemudian setelah anak bertambah umurnya maka eksplorasi itu terutama dilaksanakannya dengan fungsi-fungsi panca-indera, dan kemudian dengan fungsi-fungsi kejiwaaan (angan-angan, fantasi, pikiran, dan sebagainya). Di dalam eksplorasi ini anak menemukan berbagai hal, seperti:
• sifat-sifat benda,
• sifat-sifat manusia lain,
• sifat-sifatnya sendiri,
• bahasa,
• dan sebagainya
justru di dalam eksplorasi itulah anak berkembang. Karena itu eksplorasi adalah halyang “niscaya”, hal yang harus dilakukan oleh anak sesuai dengan hakikatnya sebagai pribadi yang sedang berkembang kea rah kedewasaan. Karena itu rintangan terhadap eksplorasi ini berarti bertentangan dengan kepentingan si anak. Eksplorasi akan berlangsung dengan baik kalau kebutuhan-kebutuhan biologis dan kebutuhan akan rasa aman itu terpenuhi dengan baik, serta mendapat kesempatan.
Adalah kewajiban para pendidik (terutama orang tua) untuk memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan eksplorasi.
5. Tut Wuri Handayani
Istilah tut wuri handayani berasal dari bahasa Jawa. Tut wuri berarti mengikuti dari belakang dan Handayani berarti mendorong, memotivasi, atau membangkitkan semangat. Tut wuri handayani pada awalnya merupakan inti salah satu dari “Asas 1922”, yakni tujuh buah asas dari Perguruan Taman Siswa (didirikan pada tanggal 3 Juli 1922 oleh Ki Hadjar Dewantoro). Asas pertama Perguruan Taman Siswa menegaskan bahwa setiap orang mempunyai hak mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dalam perikehidupan umum. Asas inilah yang mendorong Taman Siswa untuk mengganti sistem pendidikan cara lama yangmenggunakan perintah, paksaan, dan hukuman dengan sistem khas Taman Siswa yang didasarkan pada perkembangan kodrati. Dari asas ini pulalah lahir sistem Among, di mana guru memperoleh sebutan pamong, yaitu sebagai pemimpin yang berdiri di belakang dengan semboyan tut wuri handayani, yaitu tetap mempengaruhi dengan memberi kesempatan kepada anak didik untuk berjalan sendiri, dan tidak terus menerus dicampuri, diperintah, dan dipaksa. Pamong hanya wajib menyingkirkan segala sesuatu yang merintangi jalannya anak serta hanya bertindak aktif dan mencampuri tingkah laku atau perbuatan anak apabila mereka sendiri tidak dapat menghindarkan diri dari berbagai rintangan atau ancaman keselamatan atau gerak majunya. Jadi, sistem Among adalah cara pendidikan yang dipakai dengan maksud mewajibkan pada guru supaya memperhatikan dan mementingkan kodrat-iradat para siswa dengan tidak melupakan segala keadaan yang mengelilinginya.
Dengan menyimak uraian di atas, dapat dipahami bahwa konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantoro ini mengakui adanya bakat, pembawaan, ataupun potensi-potensi yang ada pada anak sejak dilahirkan. Potensi-potensi tersebut saling mempengaruhi dengan lingkungan dalam proses perkembangan anak. Purwanto (!994: 49) menyatakan bahwa kalau dibandingkan dengan aliran-aliran pendidikan yang berkembang di Barat, tut wuri handayani lebih mirip dengan aliran konvergensi dari William Stern. Penganut aliran ini berpandangan bahwa perkembangan anak (manusia) ditentukan oleh proses interaksi antara pembawaan anak dengan lingkungan, termasuk pendidikan, yang mempengaruhi anak dalam perkembangannya.
Leia Mais...
0

MAKALAH RA`BIAH AL-ADAWIYAH

A. Riwayat Hidup Ra’biah al-Adawiyah

Nama lengkapnya adalah Rabiah binti Isma’il al-Adawiyah al-Qissiyah lahir di Basrah(95H/713M – Yerusalem, 185H/801M), ia berasal dari keluarga miskin, ditinggal mati ayahnya selagi ia masih kanak-kanak, dan dirundung keprihatinan hidup pada masa remajanya.
Fariduddin Attar (513H/1119M – 627H/1230M), penyair mistik Persia, dalam melukiskan keprihatinan Rabiah, menulis bahwa ia dilahirkan dimana tidak ada sesuatu apapun untuk dimakan dan yang dapat dijual. Malam gelap gulita karena minyak untuk penerangannya telah habis.
Pada suatu hari menjelang usia remajanya, ketika keluar rumah, ia ditangkap oleh pejabat dan dijual dengan harga 6 dirham. Orang yang membeli Rabi’ah menyuruhnya mengerjakan pekerjaan yang berat memperlakukannya dengan bengis dan kasar. Namun demikian, ia tabah menghadapi penderitaan, pada siang hari melayani tuannya, dan pada malam hari beribadah kepada Allah SWT, mendambakan ridlo-Nya. Pada suatu malam, tuannya terjaga dari tidur, dan melalui jendela ia melihat cahaya terang di atas kepala Rabi’ah yang sedang sujud dan berdo’a, “Ya Allah, Engkau tahu bahwa hasrat hatiku adalah untuk dapat memenuhi perintahMu, jika aku dapat mengubah nasibku ini, niscaya aku tidak akan beristirahat barang sebentarpun dari mengabdi kepadaMu”. Menyaksikan peristiwa itu ia merasa takut, semalaman termenung sampai terbit fajar. Pagi-pagi sekali ia memanggil Rabi’ah, bersikap lunak kepadanya, dan membebaskannya.
Setelah menikmati kebebasan Rabi’ah menjalani kehidupan sufistik, beribadah dan berkhlawat (menyepi), lebih memilih kemiskinan daripada gemerlapan kehidupan dunia.
Pada saat musim haji Rabi’ah menunaikan ibadah haji bersama Kabilah dan Basrah dengan mengendari keledai. Ditengah-tengah perjalanan keledai tersebut mati sehingga sebagian rombongan tersebut ada yang ingin menolongnya dengan berkata: “Biarlah kami yang membawa barang-barangmu”. Rabi’ah menjawab: “Teruskanlah perjalanan kalian, bukan tujuanku untuk memberi beban kepada kalian”. Maka berangkatlah orang-orang itu meninggalkan Rabi’ah seorang diri ditengah padang pasir. Disana ia mendahulukan kepadanya sambil berdo’a: “Ya Allah, apalagi yang akan Engkau lakukan dengan seorang perempuan asing dan lemah ini? Engkau yang memanggilku ke rumah-Mu (ka’bah), tetapi ditengah jalan engkau mengambil keledaiku dan membiarkan aku seorang diri ditengah padang pasir ini”.
Setelah puas berdoa, maka nampak didepannya keledai mati itu bergerak kembali dan bangun, lalu diletakkannya barang-barangnya diatas punggung keledai tadi, kemudian melanjutkan perjalannya. Dalam perjalanan selanjutnya sebelum sampai ke Mekkah ia berhenti dan berseru kepada Allah: “Ya Allah, aku sudah letih, ke arah manakah yang haru dituju? Aku hanyalah debu diatas bumi ini dan rumah itu (ka’bah) hanyalah sebuah batu bagiku. Tampakanlah wajah-Mu ditempat mulia ini”. Begitulah ia bedo’a sehingga tiba-tiba ia mendengar suara Allah Yang Maha Kuasa berfirman langsung di dalam hatinya tanpa ada lagi jarak “Wahai Rabi’ah …” Ketika Musa ingin sekali melihat wajahKu, aku hancurkan gunung Sinai dan terpecah menjadi empat puluh potong, tetaplah berada disitu dengan namaKu”.
Pengelaman berhaji menjadikan Rabi’ah al-Adawiyah lebih giat beribadah, Rabi’ah al-Adawiyah telah menjadi seorang gadis dewasa dan sebagai seorang abidah banyak pemuda yang tertarik dan ingin melamarnya, tetapi ia tolak semua. Ia mengambil keputusan ini akrena menurutnya dengna tidak menikah itulah ia dapat melakukan pencarian tanpa hambatan, diantara mereka yang melamarnya adalah :
Pertama, Abdul Wahid bin Zayid, yang terkenal dengan kezuhudan dan kesucian hidupnya, seorang teolog, ulama dan hidup dalam pengasingan guna mencari jalan Allah.
Kedua, Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, seorang abbasiyah dari basrah, ia mengajukan mahar perkawinan sebesar seratus ribu dinar.
Ketiga, Hasan al-Bashri sahabat karibnya sesama sufi, para sahabatnya banyak mendesak agar ia menikah dengan sesama sufi. Atas desakan kuat ini, Rabi’ah mau menerima asal sahabatnya bisa menjawab pertanyaan dirinya. Hasan al-Bashri berkata : “Bertanyalah, dan jika Allah mengijinkan, aku akan menjawab pertanyaanmu”.
Pertama, “apakah yang akan dikatakan oleh hakim dunia ini saat kematianku nanti; akankah aku mati dalam Islam atau murtad”. Hasan al-Bashri menjawab :”Hanya Allah yang Maha Mengetahui dan dapat menjawab”.
Kedua, “pada waktu aku dalam kubur nanti, disaat malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku dapatkah aku menjawabnya?” Hasan al-Bashri menjawab, “Hanya Allah yang tahu”.
Ketiga, “pada saat manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar di Hari Perhitungan nanti, semua akan menerima buku ditangan kanan dan di tangan kiri, bagaimana denganku, akankah aku menerima ditangan kanan atau ditangan kiri?”. Hasan al-Bashri menjawab , “Hanya Allah yang tahu”
Keempat, Pada saat Hari Perhitungan nanti, sebagian manusia masuk surga (Jannah) dan sebagian lain akan masuk neraka. Dikelompok manakah aku akan berada?”. Hasan menjawab, “Hanya Allah yang Maha Mengetahui semua rahasia yang tersembunyi itu”.
Selanjutnya Rabi’ah mengatakan kepada Hasan, “Aku telah mengajukan empat pertanyaan tentang diriku, bagaimana aku harus bersuami yang kepadanya aku harus menghabiskan waktu dengannya”. Itulah penolakan-penolakan Rabi’ah terhadap orang-orang yang ingin memperistrinya, hingga akhirnya ia tidak menikah hingga akhir hayatnya.
Sejak ia berumur tiga puluh tahun, ia mengajarkan tentang tasawuf dan meninggalkan kehidupan duniawi dan hanya memusatkan perhatiannya untuk mendekatkan diri kepada Allah, ia memandang kehidupan duniawi hanyalah permainan yang meniupu orang memandangnya, maka jalan satu-satunya untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah juhud kepada duniawi”.
Menurut Syarqawi, juhud dibagi menjadi tiga tingkat:
(1) meninggalkan perkara adalah juhudnya orang awam,
(2) memalingkan kelebihan dari yang halal adalah juhudnya orang hawas,
(3) meninggalkan kesibukan untuk meningkatkan ibadah kepada Allah adalah zahidnya para arifin.
Adapun zuhudnya Rabi’ah al-Adawiyah terhadap kesenangan dunia adalah meninggalkan kecintaan terhadap laki-laki dengan penuh kesadaran. Kejadian Rabi’ah al-Adawiyah tergambar dalam kesederhanaan hidupnya menyendiri dalam kehidupan duniawi, menghilangkan rasa cinta kepada dunia dan seisinya, untuk nikmat yang sangat besar.
Zuhud yang ditempuh Rabi’ah al-Adawiyah sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah, karena kesenangan dan kemewahan dunia akan menimbulkan hawa nafsu yang bisa mengganggu dan memalingkan dari mengingat Allah.

B. Al-Mahabbah
Mahabbah ( المحبه ) adalah cinta dan yang dimaksud ialah cinta kepada Tuhan. Pengertian yang diberikan kepada Mahabbah antara lain adalah sebagai berikut :
1. Memeluk kepatuhan kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepadaNya.
2. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi
3. Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi
Menurut al-Sarraj, Mahabbah mempunyai tiga tingkat :
1. Cinta biasa yaitu selalu mengingat Tuhan dengan dzikir, suka menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan, senantiasa memuji Tuhan.
2. Cinta orang Siddiq ( الصدق ) yaitu orang yang kenal kepada Tuhan, pada kebesaran-Nya pada kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya dan lain-lain. Cinta yang dapat menghilangkan tabir yang merusakkan diri seseorang dari Tuhan dan dengan demikian dapat melihat rahasia-rahasia yang ada pada Tuhan.
3. Cinta yang arif ( العارف ) yaitu orang yang tahu betul pada Tuhan cinta serupa ini timbul karena telah tahu betul diri yang dicintai, dilihat dan dirasakan bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk kedalam diri yang dicintai.
Rabi’ah dipandang sebagai pelapor tasawuf Mahabbah (cinta mistik), yaitu penyerahan diri total kepada “kekasih” (Allah). Hakikat tasawufnya adalah habbul-illah (mencintai Tuhan Allah SWT). Ibadah yang ia lakukan bukan terdorong oleh rasa takut akan siksa neraka atau penuh harap akan pahala dan surga, melainkan semata-mata terdorong oleh rasa rindu pada Tuhan untuk menyelami keindahan-Nya yang azali (wujud abadi tanpa awal). Mahabbah sebagai martabat untuk mencapai tingkat Makrifat (ilmu yang dalam untuk mencari dan mencapai kebenaran dan hakikat) diperoleh Rabi’ah setelah melalui martabat-martabat kesufian, dari tingkat ibadah dan zuhud (tapa) ke tingkat ridlo (rahmat) dan ihsan (kebajikan), sehingga cintanya hanya kepada Allah.
Luapan cinta itu sebagaimana terucap dalam syair-syairnya :
“Aku mencintaimu dengan dua cinta; cinta karena diriku dan cinta karena diriMu, cinta karena diriku adalah keadaanku yang selalu mengungkapkan tabir, sehingga Engkau kulihat. Baik untuk ini maupun untuk itu, pujianku bukanlah bagiku, bagi-Mu lah semua pujian itu. Buah hatiku, hanya Engkaulah yang kukasihi, beri ampunlah pembuat dosa yang datang kehariban-Mu. Engkau harapanku, kebahagiaanku, dan kesenanganku, hatiku enggan mencintai selain Engkau”.

``Aku membawa obor dan seember air, untuk membakar surga dan memadamkan neraka karena aku ingin manusia beribadah dan beramal bukan karena ingin mendapat surga-Mu dan menjauhkan neraka-Mu, tapi semata-mata karena Engkau``.
Bagi Rabi’ah, dorongan Mahabbah kepada Allah berasal dari dirinya sendiri dan juga karena hak Allah untuk dipuja dan dicintai. Mahabbah disini bertujuan untuk melihat keindahan Allah SWT. Puncak pertemuan Mahabbah antara hamba dan cinta kepada Allah-lah yang menjadi akhir keinginannya.
C. KONSEP AL-MAHABBAH RABI`AH AL-ADAWIYAH
Berdasarkan pengalaman rohaniah yang dilakukan Rabi’ah al-Adawiyah dalam menggapai Al-Mahabbah, terdapat beberapa cara sebagai jembatan yang dapat menghantarkan seseorang menuju tingkat tersebut, yaitu:
1). Bangun di waktu malam
Rabi’ah telah menepati janjinya kepada Allah, ia selalu dalam keadaan beribadah kepada Allah sampai meninggal dunia. Bahkan ia selalu melaksanakan shalat tahajjud di malam hari. Dengan amal ibadahnya, wajah Rabi’ah al-adawaiyah berseri, dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah akan mendapatkan limpahan cahaya dari Ilahi. Pada hakikatnya cahaya wajah orang yang taat beribadah adalah cahaya Allah yang wujud padanya sehingga meliputi langit dan bumi serta segala isinya.
2). Perawan selama hidup
Rabi’ah al-Adawiyah, telah memilih jalan hidup dengan cara zuhud dan beribadah kepada Allah. Selama hidup ia tidak pernah menikah, walaupun ia seorang wanita yang cantik dan menarik. Juga seorang yang cerdas dan luas ilmunya. Rabi’ah sadar kalau perkawinan adalah perintah agama. Pada suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Rabi’ah, mengapa Anda tidak mau menikah ?. Rabi’ah menjawab; ada tiga keprihatinanku. Bila ada orang yang bisa menghilangkan keprihatinanku tersebut, maka aku akan menikah dengannya. Kemudian ia mengemukakan ketiga masalah tersebut; pertama, apabila aku meninggal dunia, maka aku akan menghadap Tuhanku, apakah dalam keaadan beriman atau suci ?, kedua, apakah aku akan menerima kitab amalanku dengan tangan kanan ku ?. ketiga, bila datang hari kiamat, dan orang- orang dari kelompok kanan telah masuk surga dan kelompok kiri masuk neraka. Maka dalam kelompok manakah aku ?. orang itu menjawab : “aku tidak tahu apa- apa tentang pertanyaanmu itu, masalah itu hanya diketahui oleh Allah SWT. Rabi’ah berkata: jika demikian halnya maka aku akan tetap dalam keadaan cemas dan prihatin. Bagaimana aku akan mampu berumah tangga. Alasan Rabi,ah tersebut menggambarkan bahwa memang tidak ada niat baginya untuk membagi cinta kepada Allah dengan makhluk ciptaan-Nya.
3). Meningkatkan kesucian jiwa
Rabi’ah al-Adawiyah berhasil mencapai kesucian jiwa dengan cara mengumpulkan ilmu pengetahuan, pengamblengan jiwa dan watak. Penerapan sikap zuhud dalam kehidupan dunia telah menyebabkan kemurnian cintanya kepada Allah semakin subur. Bukti zuhudnya, dapat dilihat dari suatu riwayat yang menceritakan bahwa suatu hari pencuri masuk ke rumah Rabi’ah, tetapi pencuri itu tidak mendapatkan apa- apa di rumahnya kecuali sebuah kendi. Ketika pencuri itu mau keluar, Rabi’ah menegurnya: “jika engkau seorang yang cerdas, maka engkau jangan ke luar dengan tangan kosong”. Pencuri itu menjawab: “aku tidak menemukan apa- apa”. Rabiah berkata: “sayang sekali berwuduklah dengan air kendi ini, lalu masuklah ke kamar ini dan lakukan lah shalat dua rakaat, maka engkau akan keluar membawa sesuatu. Pencuri itu melakukan apa yang diperintahkan oleh Rabi’ah al- Adawiyah. Ketika ia sedang shalat, rabiah menengadahkan kepalanya ke langit sambil berdoa: ya Allah, orang ini telah datang ke rumahku, tetapi ia tidak mendapatkan apa- apa dirumahku, karena itu aku telah menahannya di depan pintumu. Oleh karena itu janganlah Engkau biarkan dia pergi dengan tangan hampa tanpa mendapatkan karunia dan pahala dari-Mu.
Terlepas dari benar atau salahnya riwayat tersebut, disana menggambarkan bahwa sangat sederhananya kehidupan Rabi’ah al-Adawiyah di atas dunia. Selanjutnya juga tergambar kesabaran yang sangat agung dari dirinya, walaupun datangnya seseorang ke rumahnya untuk membinasakan diri rabiah sendiri namun dibalasnya dengan doa dan rasa kasih saying kepada sang pencuri tersebut. Dari kebersihan hati dan jiwanya sangat tepatlah kalau yang menjadi tujuan hidupnya adalah keridhaan Allah semata. .  
Leia Mais...
0

Akibat Sering Onani

21 Jun 2010.
Bahaya Akibat Sering Onani
Apakah anda sering melakukan onani????

apa yang anda rasa saat anda sampai pada saat titik klimaks??


Apakah anda tahu tentang bahaya onani???ternyata setelah diselidiki oleh para dokter spesialis kelamin atau dokter lain bahwa onani mempunyai dampak buruk terhadap kejiwaan kita….siapa sangka bahwa onani ternyata mempunyai dampak buruk….

Bagi kaum laki-laki onani memberikan kenikmatan tertentu…Kita bisa merasakan sebuah kenikmatan walaupun kenikmatan itu hanyalah bersifat sementara. Bagi laki-laki yang belum menikah khususnya onani menjadi salah satu cara untuk mengintepretasikan nafsu kita selain melakukan perbuatan zina. Tahukah bahwa onani termasuk perbuatan zina???
Menurut sebagian ulama madzhab Hanafi, masturbasi yang dilakukan semata-mata untuk memperoleh kenikmatan seksual, hukumnya haram. Akan tetapi bisa menjadi mubah (boleh) apabila gejolak nafsunya begitu tinggi, sementara ia belum mampu untuk menikah dan tidak memiliki istri, dan dikhawatirkan akan berbuat zina jika tidak disalurkan nafsul seksualnya dengan onani. Pendapat ini mengikuti kaidah:

“Idzaj tama’a ad-dhararu fa’alaykum biakhaffi ad-dhrarayn”

Artinya: ” Jika berkumpul dua bahaya, maka wajiblah kalian mengambil bahaya yang paling ringan.”

Onani bahayanya lebih ringan dibanding berzina.

Selain hukumya haram onani juga mempunyai dampak yang buruk :

1. Sistem syaraf yang paling terpengaruh.
2. Selain jantung, sistem pencernaan sistem, sistem air kencing serta sistem lainnya menjadi buruk terpengaruh dan akibatnya seluruh tubuh menjadi banyak penyakit dengan kelemahan besar.
3. Mata menjadi cekung, tulang pipi menonjol dan ada lingkar hitam sepanjang mata.
4. Terus sakit kepala dan punggung.
5. Pusing dan kehilangan memori.
6. Gigil hati pada list tenaga.
7. Ttimbulnya penyakit saraf
8. Tidak dapat melakukan apapun aktifitas fisik yang berat atau mental kerja lemah.
9. Orang agak senang untuk duduk dalam pengasingan dan menderita dari kelemahan.
10. Melemahkan Semua indera
11. Visi menjadi ada, lidah mulai gagap dan telinga cenderung menjadi tuli dl
12. Lemah syahwat / bisa bikin mr P jd ga tahan lama..
13. keseringan juga dpt mengejangkan urat2 pada bagian P shg kadang2 terasa nyeri pd bagian bawah…
14. keseringan juga bs menyebabkan impotensi krn sperma tdk subur lagi.

buat para laki-laki lakukan pemikiran berulang jika mau melakukan onani. Selain memberikan dampak buruk terthadap kejiwaan kita juga menurut islam termasuk berzina…tapi kecil.
Leia Mais...
0

sejarah peradapan islam

SOAL :
1. Apa tujuan dan manfaat mempelajari sejarah dan kebudayaan peradapan islam, jelaskan dan uraikan menurut pendapat anda ?
2. Uraikan dan jelaskan dengan rinci tentang aspek-aspek kehidupan masyarakat arab sebelum islam, dan pada masa rasulullah baik ketika dimekkah atau pun dimadinah ?
3. Jelaskan tentang kebudayaan dan peradapan dimasa rasulullah dan dimasa khulafaurrasyidin ?
4. Coba uraikan dan jelaskan dengan baik apa perbedaan dan persamaan tentang sejarah kebudayaan peradapan islam masa khulafaurrasyidin, dinasti bani umayyah dan dinasti abbasyiah ?
JAWAB :
1. Kita ketahui lebih dahulu tentang sejarah islam, Sejarah Islam adalah berbagai peristiwa atau kejadian yang benar-benar terjadi yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan Islam dalam berbagai aspek. Dalam kaitan ini, maka muncullah berbagai istilah yang biasanya digunakan untuk sejarah itu, di antaranya: Sejarah Islam, Sejarah Kebudayaan Islam, Sejarah Peradaban Islam, jadi tujuan dan manfaat mempelajari sejarah dan kebudayaan peradapan islam adalah :
• Kita dapat mengetahui Catatan peristiwa tentang pertumbuhan dan perkembangan sejarah dan kebudayaan peradapan islam sejak lahirnya hingga sekarang ini .kita dapat Mengetahui dan memahami pertumbuhan dan perkembangan sejarah dan kebudayaan peradapan islam, sejak zaman lahirnya sampai masa sekarang. kita dapat Mengambil manfaat dari proses sejarah dan kebudayaan peradapan islam guna memecahkan problematika sejarah dan kebudayaan peradapan islam pada masa kini. Dan juga kita dapat Memiliki sikap positif terhadap perkembangan sejarah dan kebudayaan peradapan islam.
2. Aspek-aspek bangsa arab arab sebelum islam Bangsa Arab hidup berpindah-pindah, karena tanahnya terdiri dari gurun pasir yang kering dan sangat sedikit sekali turun hujan. Perpindahan mereka dari satu tempat ke tempat yang lain itu mengikuti tumbuhnya stepa atau padang rumput yang tumbuh secara sporadis di tanah Arab sekitar oasis atau genangan air setelah turun hujan. Padang rumput diperlukan oleh bangsa Arab yang disebut juga bangsa Badawi, Badawah, Badui, guna mengembalakan ternak mereka yang berupa domba dan unta serta kuda, sebagai binatang unggulannya. Dan juga Penduduk Arab menganut agama yang bermacam-macam, antara lain yang terkenal adalah penyembahan terhadap berhala atau paganisme. Dan masa itu biasanya disebut dengan zaman jahiliyah. Masa kegelapan dan kebodohan dalam hal agama.
Trus aspek-aspek pada masa rasulullah baik ketika dimekkah atau pun dimadinah beliau mulai mengikis paham paganisme, menghilangkan kemusyrikan menuju masyarakat tauhid, mengubah kepercayaan kepada takhayul menuju rasionalitas di bawah bimbingan wahyu, membebaskan kaum mustadh'afin (lemah) dari ketertindasan menuju masyarakat merdeka, serta mengangkat harkat dan martabat perempuan sesuai dengan kodratnya sebagai manusia. dan mampu memberikan nuansa kehidupan baru yang lebih agamis, membebaskan dan mencerahkan bangsa arab pada masa Rasulullah baik dimekkah ataupun dimadinah .

Dan saya ingin menceritakan sedikit secara singkat saat beliau di Mekkah dan di Madinah :

Di Mekkah terdapat Ka’bah. Masyarakat jahiliyah Arab dari berbagai suku berziarah ke Ka’bah dalam suatu kegiatan tahunan, dan mereka menjalankan berbagai tradisi keagamaan mereka dalam kunjungan tersebut. Muhammad mengambil peluang ini untuk menyebarkan Islam. Di antara mereka yang tertarik dengan seruannya ialah sekumpulan orang dari Yathrib (Madinah). Mereka menemui Muhammad dan beberapa orang Islam dari Mekkah di suatu tempat bernama Aqabah secara sembunyi-sembunyi. Setelah menganut Islam, mereka lalu bersumpah untuk melindungi Islam, Rasulullah (Muhammad) dan orang-orang Islam Mekkah.

Tahun berikutnya, sekumpulan masyarakat Islam dari Yathrib datang lagi ke Mekkah. Mereka menemui Muhammad di tempat mereka bertemu sebelumnya. Mereka mengundang orang-orang Islam Mekkah untuk berhijrah ke Yathrib. Muhammad akhirnya setuju untuk berhijrah ke kota itu.

Mengetahui bahwa banyak masyarakat Islam berniat meninggalkan Mekkah, masyarakat jahiliyah Mekkah berusaha menghalang-halanginya, karena beranggapan bahwa bila dibiarkan berhijrah ke Yathrib, orang-orang Islam akan mendapat peluang untuk mengembangkan agama mereka ke daerah-daerah yang lain. Setelah berlangsung selama kurang lebih dua bulan, masyarakat Islam dari Mekkah pada akhirnya berhasil sampai dengan selamat ke Yathrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah atau “Madinatun Nabi” (kota Nabi).
Di Madinah, pemerintahan (kalifah) Islam diwujudkan di bawah pimpinan Muhammad. Umat Islam bebas beribadah (shalat) dan bermasyarakat di Madinah. Quraish Makkah yang mengetahui hal ini kemudian melancarkan beberapa serangan ke Madinah, akan tetapi semuanya dapat diatasi oleh umat Islam. Satu perjanjian damai kemudian dibuat dengan pihak Quraish. Walaupun demikian, perjanjian itu kemudian diingkari oleh pihak Quraish dengan cara menyerang sekutu umat Islam.

Pada tahun ke-8 setelah berhijrah ke Madinah, Muhammad berangkat kembali ke Makkah dengan pasukan. Penduduk Makkah yang khawatir kemudian setuju untuk menyerahkan kota Makkah tanpa perlawanan, dengan syarat Muhammad kembali pada tahun berikutnya. Muhammad menyetujuinya, dan ketika pada tahun berikutnya ia kembali maka ia menaklukkan Mekkah secara damai. Muhammad memimpin umat Islam menunaikan ibadah haji, memusnahkan semua berhala yang ada di sekeliling Ka’bah, dan kemudian memberikan amnesti umum dan menegakkan peraturan agama Islam di kota Mekkah.

3. Seperti kita ketahui Peradaban Islam mulai di bangun oleh Nabi Muhammad saw, ketika berhasil merumuskan masyarakat Madani dan Piagam Madinah, seperti contoh cerita jawaban NO 2 td diatas, kemudian di lanjutkan oleh Khulafa Rasyidin (Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Utsman Ibn Afffan, dan Ali Ibn Thalib) sistem yang di kembangkan pada saat itu adalah sistem demokrasi di mana pucuk pimpinan di pilih melalui Musyawarah-musyawarah oleh beberapa orang yang di tunjuk oleh kaum muslimin atau khalifah sebelumnya.
Dan juga pada masa rasulallah beliau membangun peradapan yaitu mesjid yang berfungsi untuk pusat kegiatan umat Islam, dan Pada masa khalifatur rasyidun (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali), masjid tetap memerankan fungsinya sebagai pusat kegiatan umat Islam.
4. Perbedaan pada masa khulafaurrasyidin, dinasti bani umayyah dan dinasti abbasyiah yaitu :
Pada masa khulafaurrasyidin pemerintahan yang dipakai adalah berbentuk demokrasi yaitu pengambilan keputusan tidak hanya berdasarkan kemauan khalifah, tetapi berdasarkan musyawarah dengan semua unsure yang terlibat dalam pemerintahan Negara. Seperi diketahui ciri-ciri pemerintahan yang berazas demokrasi (pemerintahan khulafaurrasyidin ) antara lain :
• Pemimpin pemerintah islam yang disebut khalifah merupakan amanah dari Allh yang harus dipertanggungjawabkan, dan bukan sebagai penguasa tunggal.
• Khalifah tidak berhak untuk menentukan hukum semuanya, khalifah harus tunduk pada hokum yang berlaku.
• Khalifah berkewajiban melindungi dan mensejahterakan rakyat.
Sedangkan pada masa dinasti bani umayyah dan dinasti abbasyiah system pemerintahan Negara-negara di luar islam umumnya menerapkan pemerintahan Despotisme yang bersifat monarki artinya pemerintahan yang kekuasaan nya hanya dipegang oleh satu tangan saja yaitu raja atau kaisar. Dan ciri-ciri pemerintahan Despotisme ( pemerintah umayyah dan abbasyiah ) antara lain :
• Raja adalah penguasa tunggal yang wajib ditaati oleh seluruh rakyat.
• Raja memiliki hak penuh untuk menentukan dan melaksanakan suatu ketetapan hukum sesuai dengan kemauan nya sendiri .
• Rakyat berfungsi sebagai penyangga raja yang harus memakmurkan rajanya, misalnya rakyat harus membayar upeti, kerja paksa dan lain-lain.
Dan persamaan nya pada masa khulafaurrasyidin, dinasti bani umayyah dan dinasti abbasyiah yaitu sama- sama memakai gelar khalifah akan tetapi dinasti bani umayyah dan abbasyiah pmerintahan nya sangat berbeda dengan khalifah yang empat seperti perbedaan yang kita ketahui tadi
Leia Mais...
0

Kisah hidup . ..

16 Feb 2010.

aduh bingung mo kerja apa, kya ini kh rsa nya kda nta duit lg l1 kuitan, q dah dwsa, q hrus hdup mndiri, q cupan nta trus l1 ortu, q brusha agar q bsa tp ap q sanggup . . .
yg pnting semangat !!!!!!!!!!!
Leia Mais...
0

Demi cinta . . ..

11 Feb 2010.

Maaf, ku telah menyakitimu
Ku telah kecewakanmu
bahkan ku sia-siakan hidupku,
dan kubawa kau s’perti diriku

Walau hati ini t’rus menangis
Menahan kesakitan ini
Tapi kulakukan semua demi cinta

Akhirnya juga harus ku relakan
kehilangan cinta sejatiku
Segalanya t’lah kuberikan
juga semua kekuranganku

Jika memang ini yang terbaik
untuk diriku dan dirinya
Kan ku t’rima semua demi cinta

Jujur, aku tak kuasa
saat terakhir kugenggam tanganmu

Oo.. namun yang pasti terjadi
kita mungkin tak bersama lagi
Bila nanti esok hari
Kutemukan dirimu bahagia
Ijinkan aku titipkan
kisah cinta kita selamanya

~{}~

Jujur, aku tak kuasa
saat terakhir kugenggam tanganmu

Oo.. namun yang pasti terjadi (yang pasti terjadi)
kita mungkin tak bersama lagi
Bila nanti esok hari (nanti esok hari)
Kutemukan dirimu bahagia (dirimu bahagia)
Ijinkan aku titipkan
kisah cinta kita
kisah cinta kita
selamanya

Hmm.. demi cinta

Leia Mais...
 
My Story © Copyright 2010 | Design By Gothic Darkness |