TASAWUF

2 Jul 2010.
Pengertian tasawuf :
Tasawuf Akhlaki adalah tasawuf yang berorientasi pada perbaikan akhlak’ mencari hakikat kebenaran yang mewujudkan menuasia yang dapat ma’rifah kepada Allah, dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. Tasawuf Akhlaki, biasa disebut juga dengan istilah tasawuf sunni. Tasawuf Akhlaki ini dikembangkan oleh ulama salaf as-salih.
Para sufi yang mengembangkan taswuf akhlaki antara lain :
a. Hasan al-Basri (21 H – 110 H),Hasan Al Basri adalah hidup zuhud terhadap dunia, menolak segala kemegahan, hanya semata menuju kepada Allah, tawakal, khauf dan raja’. Janganlah hanya semata-mata takut kepada Allah. Tetapi ikutilah ketakutan dengan pengharapan. Takut akan murkanya, tetapi mengaharp akan rahmatnya.
b. al-Muhasibi (165 H – 243 H), Al-Muhasibi memandang bahwa jalan keselamatan hanya dapat ditempuh melalui ketakwaan kepada Allah, melaksanakan kewajiban-kewajiban, wara’, dan meneladani Rasulallah
c. al-Qusyairi (376 H – 465 H) al qusyairi adalah sufi yang mengkompromikan syariat dangan hakekat.
d. Abu Hamid al-Gajali (450 H – 505 H) seorang yang mendapatkan gelar “Hujjatul Islam” karena keluasan ilmunya, mendasarkan pokok ajaran tasawufnya pada bentuk maqamat dan ahwal, melalui tahapan-tahapan latihan jiwa dan rohaniah tertentu, sehingga seorang akan sampai pada tingkatan “fana”, “tauhid” , “makrifat” dan “sa’adah” (kebahagiaan abadi). Dalam konsep makrifat, al-Ghazali menjelaskan bahwa orang yang yang mempunyai makrifat tentang Tuhan, adalah “arif”, dimana mereka tidak akan mengatakan dalam ucapannya itu : “Ya Allah atau Yaa Rabb”, karena memanggil Tuhan dengan cara yang demikian berarti Tuhan itu jauh berada dibelakang tabir, pada hal seorang yang sedang duduk berhadapan dengan temannya, mereka tidaklah akan memanggil temannya itu. Dan makrifat bagi al-Ghazali juga bisa sampai kepada memandang wajah Allah Swt.
e. Syaikh al-Islam Sultan al-Aulia Abdul Qadir al-Jilani (470 – 561 H) ,
f. Ibnu Atoilah as-Sakandari dan lain-lain.
Tasawuf Falsafi adalah sebuah konsep ajaran tasawuf yang mengenal Tuhan (ma’rifat) dengan pendekatan rasio (filsafat) hingga menuju ketinggkat yang lebih tinggi, bukan hanya mengenal Tuhan saja (ma’rifatullah) melainkan yang lebih tinggi dari itu yaitu wihdatul wujud (kesatuan wujud). Bisa juga dikatakan tasawuf filsafi yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran-pemikiran filsafat. Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang didasarkan kepada keterpaduan teori-teori tasawuf dan falsafah. Tasawuf falsafi ini tentu saja dikembangkan oleh para sufi yang filosof.
Tokoh-tokoh penting yang termasuk kelompok sufi falsafi antara lain
a. al-Hallaj (244 – 309 H/ 858 – 922 M) seorang yang mengembangkan konsep tasawuf dengan ajaran tentang “al-Hulul”, yaitu faham yang menyebutkan bahwa Tuhan itu memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya, setelah sifat-sifat kemanusiaan yang ada di dalam tubuh itu di lenyapkan. Bagi al-Hallaj bahwa, didalam diri manusia itu terdapat sifat-sifat kemanusiaan (an-nasut) dan sifat-sifat Ketuhanan (al-Lahut), bila manusia telah dapat menghilangkan sifat-sifat kemanusiaan dari dirinya dengan jalan fana, maka yang tinggal di dalam dirinya hanyalah sifat-sifat Ketuhanan. Ketika itulah Tuhan akan masuk di dalam diri manusia yang di sebut “al-Hulul”. Teori lain yang di kembangkan al-Hallaj ialah teori tentang “Hakikat al-Muhammadiyah” (Nur Muhammad), Dimana Nur Muhammad adalah tidak mengalami kematian, karena bersifat qadim, sebagaimana qadimnya Zat Tuhan.
b. Ibnu’ Arabi (560 H – 638 H) seorang tokoh tasawuf filsafat yang mendasarkan konsep tasawufnya tentang “Wahdatul Wujud”, yakni suatu teori yang memandamng bahwa wujud mutlak dan hakiki itu adalah Allah Swt. Sedangkan wujud “ka’inat” (alam) ini hanyalah wujud “majazi” (kiasan)yang bergantung pada wujud Tuhan. Dengan demikian pada dasarnya wujud yang sebenarnya adalah satu, yaitu wujud Allah Swt.Fenomena alam yang serba ganda ini hanya merupakan wadah tajali (penampakan lahir dari) Allah Swt.
c. al-Jili (767 H – 805 H),
Ajaran Tasawwuf Al-Jilli yang terpenting adalah faham insan kamil (manusia sempurna). Menurut Al-Jilli, insan kamil adalah nuskhah atau copy tuhan. Seperti disebutkan dalam hadits :
“Allah menciptakan adam dalam bentuk yang maharahman”
Mahkamat(Al-Martabah)
Sebagai seorang sufi, Al-Jilli dengan membawa filsafat Insan Kamil merumuskan beberapa maqam, yang harus dilalui seorang sufi yang menurut istilahnya ia sebut al-martabah (jenjang atau tingkat). Tingkat-tingkat itu adalah:
1. Islam
2. Iman
3. Shalah
4. Ihsan
5. Syahadah
6. Syiddiqiyah
7. Qurbah
d. Ibnu Sab’in (lahir tahun 614 H), Ajarannya yaitu :
1. Kesatuan mutlak
Ibn Sab’in adalah seorang pengasas sebuah pahan dalam kalangan tasawwuf filosofis, yang dikenal dengan faham kesatuan mutlak. Hal ini karena ia berbeda dari faham-faham tasawwuf yang memberi ruang lingkup pada pendapat-pendapat tentang hal yang mungkin di dalam suatu bentuk.
Orsinalitas filsafat ibn Sab’in terletak pada perbandingan yang ia buat antara kesatuan wujud dan aliran-aliran fuqaha, teolog, filosof, maupun sufi yang semuanya dia kaji dalam karyanya, Budd Al-‘Arif. Dia menyatakan bahwa sebenarnya semua aliran tersebut telah keliru dibanding dengan faham para pencapai kesatuan mutlak.
2. Penolakan terhadap logika Aristotelian
Faham ibn Sab’in tentang kesatuan mutlak telah membuatnya logika aristotelian. Oleh karena itu, dalam karyanya Budd al-‘Arif ia berusaha menyusun suatu logika baru yang bercorak iluminatif, sebagai pengganti logika yang berdasarkan pada konsepsi jamak. Ibn sab’in berpendapat bahwa logika barunya tersebut yang dia sebut juga dengan logika pencapaian kesatuan mutlak, tidak termasuk kategori logika yang bisa dicapai dengan penalaran, tetapi termasuk embusan ilahi yang membuat manusia bisa melihat yang belum pernah dilihatnya maupun mendengar yang belum pernah di dengarnya. Dengan demikian, logika tersebut bercorak intuitif.
e. as-Sukhrawardi dan yang lainnya.
Tasawuf ‘Irfani adalah tasawuf yang berusaha menyikap hakikat kebenaran atau ma’rifah diperoleh dengan tidak melalui logika atau pembelajaran atau pemikiran tetapi melalui pemebirian Tuhan (mauhibah). Ilmu itu diperoleh karena si sufi berupaya melakukan tasfiyat al-Qalb. Dengan hati yang suci seseorang dapat berdialog secara batini dengan Tuhan sehingga pengetahuan atau ma’rifah dimasukkan Allah ke dalam hatinya, hakikat kebenaran tersingkap lewat ilham (intuisi).
Tokoh-tokoh yang mengembangkan tasawuf ‘irfani antara lain :
a. Rabi’ah al-Adawiyah (96 – 185 H) pokok ajaran tasawuf Rabi’ah adalah tentang cinta. Karena itu, ia mengabdi melakukan amal soleh bukan karena takut masuk neraka atau mengharap masuk surga, tetapi akan cintanya kepada Allah
b. Dzunnun al-Misri (180 H – 246 H), adalah disamping seorang sufi, ia juga seorang ahli kimia. Dalam tasawuf ia dikenal sebagai peletak dasar ajaran tentang “makrifat”, menurutnya pengetahuan tentang Tuhan itu mempunyai tiga tingkatan, yaitu:
(1) Pengetahauan awam, yaitu pengetahuan tentang Tuhan dengan perantaraan ucapan kalimat Syahadat. (2) Pengetahuan Ulama, yaitu pengetahuan tentang Tuhan dengan alat logika dan akal.
(3) Pengetahuan sufi (‘arif), yaitu pengetahuan tentang Tuhan dengan hati sanubari. Pengetahuan sufi ini di sebut juga dengan “makrifat”, yaitu kemampuan hati sanubari untuk melihat Tuhan.
c. Junaidi al-Bagdadi (W. 297 H), Al Junaidi mengomentari orang yang mengaku ahli makrifat tetapi dalam gerak geriknya meninggalkan perbuatan-perbuatan baik dan meninggalkan mendekatkan diri kepada Allah, maka beliau mengatakan “Ketahuilah bahwa dia itu adalah setan”. Selanjutnya beliau mengatakan, Artinya : Ucapan itu adalah ucapan suatu kaum yang mengatakan adanya pengguguran amalan- amalan. Bagiku hal itu merupakan suatu kejahatan yang besar, dan orang yang mencuri atau orang yang berzina adalah lebih baik daripada orang yang berpaham seperti itu.
d. Abu Yazid al-Bustami (200 H – 261 H) seorang tokoh sufi filsafat yang paling berani, hal ini seperti tercermin dalam konsep ajarannya tentang “As-Sakr” (mabuk Ketuhanan), “fana” dan “Baka” (peleburan diri untuk mencapai keabadian dalam diri Ilahi) dan konsep ajarannya tentang “Ittihad” (bersatunya dengan Tuhan). Ia pernah mengucapkan kata-kata terkenal dalam dunia tasawuf seperti, : “Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tiada Tuhan kecuali Aku, maka sembahlah Aku”. Ucapan demikian biasa di sebut “Syatahat” (bentuk tunggal dari kata, Syatah) yaitu ucapan seorang sufi ketika ia dalam keadaan “Ekstase” (mabuk Ketuhanan).
e. Jalaluddin Rumi, Obyek cinta rohani adalah keindahan Tuhan yang merupakan suatu aspek dari ketakterbatasan Tuhan, dan melalui obyek ini rasa cinta menjadi terang dan jelas. Cinta yang penuh dan terpadu berputar mengelilingi sesuatu titik tunggal yang tak terlukiskan, Allah Swt. Tuhan sebagai satu-satunya tujuan, tak ada yang menyamai. Karena itu, penggambaran Tuhan hanya mungkin lewat perbandingan, di mana yang terpenting adalah makna perbandingan itu sendiri, bukan wujud lahiriyah atau interpretasi fisiknya.
f. Abu Bakar as-Syibli,
g. Syaikh Abu Hasan al-Khurqani,
h. ‘Ain al-Qudhat al-Hamdani,
i. Syaikh Najmuddin al-Kubra dan lain-lainnya.

1 Comentário:

Edelweis mengatakan...

Wah...bahan makalah ya bro...??hoho

Wajah barunya keren, afwan baru bs mampir!!

Poskan Komentar

 
My Story © Copyright 2010 | Design By Gothic Darkness |